Jumat, 30 Oktober 2026

Pembahasan Hadits ke-23 Arba'in Haditsan lil Allaamah asy-Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari

 Catatan Pengajian Rutin IKAPETE Mojokerto Raya, Pembahasan Hadits ke-23 Arba'in Haditsan lil Allaamah asy-Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari dan MUSCAB PC IKAPETE Mojokerto Raya*


Tiga Kepastian


ما نقصت صدقة من مال، وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا، وما تواضع أحد لله إلا رفعه (رواه مسلم)


Hadits Hadratur Rasul Muhammad _shallallahu 'alaihi wa sallama_ yang diletakkan Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy'ari _rahimahullah_ di nomor 23 dalam kitabnya berisi tentang tiga kepastian. Bagian pertama dirangkai dengan _maa an-naafiyah_ (takkan ada) yang diperkuat dengan _min al-istighraaqiyyah_ (sedikit pun). Dua bagian akhir dipagari maknanya dengan _adat al-hashr_ kombinasi _maa_ dan _illaa_. Hal ini juga diperkuat dengan penggunaan fiil madhi untuk sesuatu yang belum terjadi yang mengandung faedah _li tahqiiq al-wuquu'_ (benar-benar atau pasti akan terjadi).


_"Sedekah sungguh takkan mengurangi harta sedikit pun. Alloh takkan benar-benar menambah seorang hamba karena sikap memaafkan kecuali berupa kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan hati karena Alloh kecuali sungguh Alloh pasti mengangkat derajatnya."_ 


Harta yang Takkan Berkurang


Seyogyanya kita yakin dengan dawuh ini. Dawuh ini sabda Rasulillah yang tingkat kesahihan yang tinggi (diriwayatkan oleh Imam Muslim) plus disampaikan dengan sastra yang berbahasa "pasti" dan "pasti".


Imam An-Nawawi _rahimahullah_ dalam _Sarh An-Nawawi 'alaa Muslim_ menggambarkan bagaimana bisa sedekah tak mengurangi harta. 


ذكروا فيه وجهين: أحدهما معناه أنه يبارك فيه، ويدفع عنه المضرات، فينجبر نقص الصورة بالبركة الخفية، وهذا مدرك بالحس والعادة. والثاني أنه وإن نقصت صورته كان في الثواب المرتب عليه جبر لنقصه، وزيادة إلى أضعاف كثيرة.


Pertama, harta yang ada diberkahi dan pemiliknya dihindarkan dari bahaya. Berkurangnya harta secara zahir tertutupi dengan keberkahan yang tersembunyi. Hal ini dapat kita amati melalui pancaindra dan banyaknya kejadian yang terjadi (banyak orang hartanya sedikit tapi berkah, dan ia dijauhkan dari mara bahaya).


Kedua, meskipun secara dhohir harta berkurang, namun pahala yang telah disediakan sebagai balasan akan menutupi kekurangan tersebut, bahkan bertambah hingga berlipat-lipat ganda.


Akan ada saja momen dimana nafsu dan setan menggiring kita ragu akan sabda Rasul yang pasti benar. Kepercayaan memang perlu dilatih. Apalagi medit adalah gawan bayi yang perlu dihilangkan. Alloh menguliti kemeditan kita dalam QS. Al-Isra' ayat 100.


قل لو أنتم تملكون خزائن رحمة ربي إذا لأمسكتم خشية الإنفاق وكان الإنسان قتورا 


_"Katakan (wahai Muhammad), "Andai kalian memiliki perbendaharaan rahmat Rabb-ku (kunci-kunci rezeki Rabb-ku, Ibnu Abbas), niscaya kalian sungguh benar-benar akan menahannya (enggan bersedekah) karena takut melarat. Manusia itu dari awalnya memang sangat kikir (tidak suka bersedekah, bakhil, dan pelit, Ibnu Abbas)."_


Baiknya Hadratur Rasul, beliau tidak hanya menyuruh umatnya percaya dengan dawuh yang berdosis pasti, namun beliau juga mengajari cara agar umatnya tak menjadi orang yang bakhil. _Allaahumma innii a'uudzu bika.. wa al-jubni wa al-bukhli_. Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil.


Menurut Sayyidina Ali _radliyallahu anhu_, orang bisa bakhil karena ia suuzan kepada Alloh 'Azza wa Jalla. _Inna al-jubna wa al-bukhla wa al-hirsha gharaaizu syattaa yajma'uhaa suuzann billaahi 'Azza wa Jalla._.


Memaaf Pasti Mulia


Imam An-Nawawi _rahimahullah_ dalam _Sarh An-Nawawi 'alaa Muslim_ menggambarkan bagaimana memaaf bisa menambah kemuliaan.


فيه أيضا وجهان: أحدهما أنه على ظاهره، وأن من عرف بالعفو والصفح ساد وعظم في القلوب، وزاد عزه وإكرامه. والثاني أن المراد أجره في الآخرة وعزه هناك. 


Pertama, kandungan hadits dimaknai apa adanya, bahwa sungguh orang terkenal suka memaaf pasti (dijadikan Alloh) mulia dan hebat di hati manusia lainnya. Dengan makna ini, maka memaaf menambah kemuliaan.


Kedua, kemuliaan yang dimaksud adalah pahala di akhirat, dengan potensi ia tetap direndahkan dan diinjak-injak selama di dunia. Kemuliaan yang dimaksud adalah kemuliaan di akhirat.


Dalam prakteknya, manakah yang lebih akurat; dibalas di dunia, dibalas di akhirat, atau dibalas di dunia sekaligus akhirat? Kurikulum Al-Qur'an lebih condong pada pilihan ketiga; di-DP di dunia, dan digerojok di akhirat (QS. An-Nahl 97). _Man 'amila shaalihan min dzakarin au untsaa wahuwa mu'min falanuhyiyannahuu hayaatan thayyibah wa lanajziyannahum ajrahum bi ahsani maa kaanuu ya'maluun_. 


QS. At-Taghaabun 14 mengenalkan tiga ungkapan memaaf; _wa in ta'fuu wa tashfahuu wa taghfiruu_. Tiga sikap memaaf itu biasa dipahami sebagai tingkatan memaaf 1) _al-'afwu_, tingkatan paling rendah, memaafkan kesalahan, 2) _as-shafh_, tidak mencela kesalahan, 3) _al-ghufraan_, menutupi dan tidak menyebarkan kesalahan. Lalu, memaaf yang seperti apa yang mengantarkan pada kemuliaan? Melihat teks hadits yang menggunakan lafadz _afw_, maka memaaf level satu saja sudah pasti menjadikan kita mulia. Apalagi level dua, atau bahkan level tiga.


Merendah Pasti Meroket


Imam An-Nawawi _rahimahullah_ dalam _Sarh An-Nawawi 'alaa Muslim_ menggambarkan bagaimana merendahkan hati bisa mengangkat derajat seseorang. 


فيه أيضا وجهان: أحدهما يرفعه في الدنيا ويثبت له بتواضعه في القلوب منزلة، ويرفعه الله عند الناس، ويجل مكانه. والثاني أن المراد ثوابه في الآخرة، ورفعه فيها بتواضعه في الدنيا.


Pertama, pengangkatan derajat itu terjadi di dunia. Dengan sikap tawadhu-nya, Allah menanamkan kedudukan khusus bagi dirinya di dalam hati manusia, meninggikan namanya di tengah masyarakat, serta memuliakan kedudukannya.


Kedua, balasan tawadhu' adalah pahala akhirat. Derajatnya di surga akan diangkat oleh Alloh sebab ke-tawadhu'-an saat masih di dunia.


Balasan tawadhu' ini punya syarat yang mutlak harus dilakukan; tawadhu' harus karena Alloh, _lillaah_ (وما تواضع أحد لله), bukan karena pencitraan atau konten semata. _Wong_ tawadhu' buaya saja bisa menipu orang senegara, bagaimana dengan tawadhu' yang dilakukan semata karena Alloh? Pasti diangkat derajatnya.


_Allahu yarham_ Kiai Ishaq Latif pernah berpesan pada Gus Suhajiz, "_Lek awakmu pengen ndolek dunyo, tawadluk o nang wong tuomu. Lek awakmu pengen ndolek ilmu manfaat barokah, tawadluk o ng gurumu."_ (Jika kamu ingin mencari dunia, bertawadhulah kepada orang tuamu. Jika kamu ingin mencari ilmu yang bermanfaat dan barokah, bertawadhulah kepada gurumu).


Tamiajeng - Trawas - Mojokerto

Ahad, 11 Oktober 2026


Qari': Kiai M. Ismail Arifin

Notulis: Taufik Taufani

Shohibul Bait: H. Nasrulloh

Rabu, 28 Oktober 2026

Tirakat sing ANGEL iku Duwe Ati Sing Resik (Tirakat yang Sulit itu Mempunyai Hati yang bersih)

Tirakat Sing Paling Angel Iku Duwe Ati Sing Resik Filosofi Jawa tentang Kesucian Hati dan Kedewasaan Jiwa Dalam filosofi Jawa, tirakat sering dimaknai sebagai laku prihatin: mengurangi kesenangan, menahan hawa nafsu, mengendalikan keinginan, dan melatih diri agar tidak diperbudak oleh kenikmatan duniawi. Ada yang tirakat dengan berpuasa, mengurangi tidur, memperbanyak diam, atau menjauh sejenak dari keramaian. Semua itu merupakan bentuk latihan diri. Namun, ada satu tirakat yang jauh lebih sulit daripada sekadar menahan lapar dan dahaga: duwe ati sing resik, memiliki hati yang bersih.
Mengapa demikian? Sebab, menahan lapar memiliki batas waktu, sedangkan membersihkan hati merupakan perjuangan sepanjang hayat. Menahan diri dari makanan bisa dilakukan dengan mengatur waktu, tetapi menahan iri ketika melihat orang lain berhasil, meredam kebencian kepada orang yang menyakiti, serta mengendalikan kesombongan ketika mendapatkan pujian membutuhkan kedewasaan batin yang tidak sederhana. Hati yang resik bukan berarti tidak pernah marah, kecewa, atau terluka. Hati yang bersih adalah hati yang tidak membiarkan kemarahan berubah menjadi dendam, kekecewaan menjelma kebencian, dan keberhasilan tumbuh menjadi kesombongan. Ia tetap bisa tegas tanpa menyimpan kebencian, mampu mengkritik tanpa merendahkan, dan berani berbeda tanpa merasa dirinya paling benar. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering lebih sibuk memperbaiki penampilan daripada membersihkan batin. Kita ingin terlihat baik di hadapan manusia, tetapi lupa memeriksa apa yang tersembunyi di dalam dada. Kita mudah menilai kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kekurangan sendiri. Bahkan, tidak jarang kebaikan dilakukan bukan semata-mata karena ketulusan, melainkan karena ingin dipuji, dihormati, atau dianggap lebih mulia.

Di sinilah beratnya tirakat ati. Sebab, musuh yang paling sulit dikalahkan bukan selalu orang yang berseberangan dengan kita, melainkan ego yang bersembunyi di dalam diri sendiri. Kita bisa mengalahkan lawan dalam perdebatan, tetapi belum tentu mampu mengalahkan kesombongan. Kita bisa terlihat sabar di depan banyak orang, tetapi diam-diam menyimpan dendam. Kita bisa berbicara tentang ketulusan, tetapi masih berharap kebaikan kita mendapatkan balasan.

Filosofi Jawa mengajarkan pentingnya eling lan waspada: selalu ingat dan mawas diri. Eling berarti menyadari bahwa hidup tidak semata-mata tentang mengejar kedudukan, harta, dan pengakuan manusia. Waspada berarti berhati-hati terhadap gerak batin sendiri, sebab niat yang tampak baik pun dapat tercampuri kepentingan pribadi. Karena itu, sebelum sibuk membenahi dunia di luar diri, seseorang perlu berani menata dunia di dalam hatinya.

Hati yang bersih juga tercermin dalam cara seseorang memperlakukan orang lain. Ia tidak merasa kehilangan harga diri hanya karena meminta maaf. Ia tidak merasa turun derajat ketika mengakui kelebihan orang lain. Ia tidak sibuk membalas setiap keburukan dengan keburukan yang sama. Bukan karena tidak mampu melawan, melainkan karena memahami bahwa tidak semua perkara harus dimenangkan dan tidak semua luka harus dibalas.

Tentu, hati yang bersih bukan berarti membiarkan kezaliman atau kehilangan keberanian untuk menegakkan kebenaran. Orang yang berhati bersih tetap boleh menolak ketidakadilan, memasang batas, dan memperjuangkan haknya. Bedanya, ia berusaha melakukannya tanpa kehilangan kemanusiaan dan tanpa membiarkan kebencian menguasai seluruh hidupnya.

Pada akhirnya, tirakat yang paling berat bukan sekadar menahan tubuh dari kenikmatan dunia, melainkan membebaskan hati dari penyakit batin. Sebab, seseorang bisa saja kuat berpuasa, tekun beribadah, dan fasih berbicara tentang kebijaksanaan, tetapi tetap terjebak dalam iri, dengki, riya, dan kesombongan.

Tirakat sejati bukan hanya tentang seberapa banyak yang mampu kita tahan, melainkan seberapa banyak keburukan dalam diri yang berhasil kita kendalikan.

Duwe ati sing resik iku ora gampang, nanging ing kono dumununge kamulyan sejati. Memiliki hati yang bersih memang tidak mudah, tetapi di sanalah kemuliaan sejati bersemayam.

Sebab,setinggi apa pun kedudukan seseorang, semulia apa pun penampilannya, dan sebanyak apa pun ilmunya, semua itu akan kehilangan makna apabila hatinya masih dipenuhi kebencian.

Laku prihatin bisa membuat kita kuat menahan lapar, tetapi ati sing resik nggawe kita kuwat ngadhepi urip tanpa kelangan rasa welas asih.

Tirakat sing paling angel iku dudu ngalahake wong liya, nanging ngalahake ego lan ngresiki ati dhewe.

BEY ARIFIN

Pemerhati NU dan Pengurus LKSPHK IKAPETE

Pembahasan Hadits ke-23 Arba'in Haditsan lil Allaamah asy-Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari

 Catatan Pengajian Rutin IKAPETE Mojokerto Raya, Pembahasan Hadits ke-23 Arba'in Haditsan lil Allaamah asy-Syaikh Muhammad Hasyim Asy...